Untuk Sebuah Maslahat Yang Lebih Besar

0
209

Fiqhi, oleh para ulama didefinisikan sebagai pengetahuan terhadap perkara-perkara agama berdasarkan dalil-dalilnya secara terperinci.

Dalam fiqh ada masalah-masalah yang telah disepakati dan ada pula masalah-masalah yang sifatnya ijtihadi. Dan nampaknya, masalah yang kedua inilah yang lebih dominan.

Menyikapi persoalan-persoalan fiqh yang bersifat ijtihadi, yang berkembang di masyarakat, maka sangat diperlukan keluasan hati untuk menerima sebuah perbedaan. Bahkan tidak sekedar menerima itu dalam tataran hati sebagai perbedaan, terkadang seorang pun dituntut untuk mengamalkan hal yang diyakininya tidak wajib untuk diamalkannya atau lebih dari itu diyakininya sebagai sebuah penyimpangan. Terlebih jika perkara yang diperselisihkan itu adalah perkara yang menyangkut hajat hidup orang banyak, maka di saat itulah keputusan hakim atau pemerintah adalah hal yang seharusnya menjadi rujukan dalam  bertindak dalam ruang sosial atau publik.

Banyak contoh yang mungkin dapat diangkat untuk memperjelas masalah ini, diantaranya adalah :

    1. Silang pendapat tentang hukum memakai cadar bagi wanita

Jika suatu negara menganut paham wajib mengenakan cadar ketika keluar rumah dan berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahram, maka ketika itu seluruh wanita muslim di negara itu wajib mengenakannya; bahkan meski ia meyakininya sebagai hal yang tidak wajib.  

    1. Silang pendapat dalam masalah penggunaan hisab sebagai dasar dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan

Jika suatu negara menganut madzhab penggunaan hisab sebagai dasar acuan penetapan awal dan akhir Ramadhan, maka ketika itu bahkan beberapa ulama yang mengingkari penggunaan metode hisab menyatakan wajibnya mengikuti ketetapan pemerintah di negara itu.

    1. Silang pendapat tentang bolehnya meninggalkan pelaksanaan shalat Jumat di masjid dalam masa pandemi

Jika suatu negara mengumumkan penghentian sementara aktivitas shalat berjamaah di masjid untuk menghindari terjadinya kerumunan orang, hingga rentan terjadi penularan covid-19 dalam jumlah yang massif, ketika itu menjadi kewajiban seluruh anggota masyarakat untuk taat kepada aturan itu, bahkan meski ia memiliki keyakinan berlawanan dengan aturan yang telah diumumkan oleh pemerintah itu.

    1. Silang pendapat tentang bolehnya melaksanakan shalat dengan shaf yang berjauhan ketika pemerintah telah menarik aturan penghentian sementara kegiatan berjama’ah di masjid dengan syarat bahwa pelaksanaan shalat tersebut harus mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah, diantaranya adalah shaf yang berjauhan

Jika suatu negara (koordinasi antara pemerintah dan ulama) telah mengeluarkan ketetapan seperti yang disebutkan, maka ketika itu wajib bagi setiap orang mematuhi aturan itu ketika melaksanakan shalat berjama’ah di masjid, bahkan meski ia tidak menyetujui pendapat otoritas ulama yang telah ditunjuk oleh pemerintah untuk menetapkan fatwa terkait dengan masalah tersebut.

Jika ditanyakan; mengapa harus taat terhadap sesuatu yang diyakini keliru ?. Maka jawabannya terpapar sangat jelas dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud yang mendapati ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu melaksanakan shalat di Mina (di saat safar) sebanyak empat rakaat, padahal Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma melaksanakannya sebanyak dua rakaat (qashar). Ketika itu Ibnu Mas’ud mengingkari apa yang dilakukan oleh ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu. Beliau sampai berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun” (istirja’). Di saat akan melaksanakan shalat, ternyata Abdullah bin Mas’ud ikut juga menjadi makmum. Para sahabat pun bertanya ke beliau;

أَتُصَلِّي مَعَهُ وَقَدِ اسْتَرْجَعْتَ؟

“Apakah engkau akan bermakmum di belakangnya sementara engkau telah mengingkarinya dengan berkata inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun ?”. Mendengar pertanyaan itu, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata;

الْخِلَافُ شَرٌّ

“Perbedaan itu adalah buruk”.

Semoga Allah ta’ala senantiasa menjaga kaum muslimin dari seluruh hal yang tidak baik. Dan semoga kelak kita semua di kumpulkan dalam keadaan bahagia di dalam surga Allah yang maha nikmat, kekal dan abadi.

    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here