Sholat Istikharah

0
291
Pertanyaan :

Ustadz afwan ana mau tanya, bagaimana tata cara sholat istikhoroh ya? Apakah ada cara khusunya?. Syukron

Jawab :

Bila seorang memiliki hajat dan ia berada dalam keraguan antara melaksanakan atau meninggalkannya, maka agama memberinya solusi untuk mendapat ketetapan hati dari dua kondisi yang disebutkan tadi. Disunnahkan baginya melaksanakan dua rakaat shalat sunnah istikharah kapan saja, baik di waktu siang atau malam. Dalam dua rakaat itu, boleh membaca surah pilihan apa saja setelah membaca surah al Faatihah. Dan setelah shalat hendaknya ia membaca doa;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

“Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (ia sebutkan urusannya itu, meski tidak berbahasa Arab) baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini , maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini , maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu.”. (HR. Bukhari)

Setelah ia melakukan shalat istikharah itu, maka hendaknya ia merasakan ketetapan hati dan kecondongannya. Dan apapun yang menjadi ketetapan hatinya, maka hendaknya ia jalankan dengan penuh tawakkal (berserah diri) kepada Allah. Allah berfirman;

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Dan apabila kamu telah bertetap hati, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berserah diri kepada Nya.”. (Ali Imraan; 159)

Hal yang juga perlu diketahui bahwa urusan yang butuh istikharah hanya terbatas pada;

*) Perkara mubah jika berbenturan dengan perkara mubah lainnya

*) Perkara sunnah jika berbenturan dengan sunnah lainnya, sehingga harus memilih satu dari keduanya.

Adapun amalan yang wajib dan amalan sunnah (jika tidak berbenturan dengan sunnah lainnya), maka tidak perlu melakukan istikharah dalam melakukannya. Sebagaimana yang haram dan makruh tidak perlu melakukan istikharah untuk meninggalkannya.

 

Wallahu a’lam bis shawaab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here